30 Hakim Tinggi Mengikuti Profile Assessment Calon Wakil Ketua PTA

Jakarta l Badilag.net

Ditjen Badilag menyelenggarakan profile assessment di Gedung Sekretariat MA, Senin (14/9/2015) pagi hingga malam. Kegiatan yang akan disambung dengan fit and proper test itu bertujuan untuk menyeleksi calon Wakil Ketua PTA/MS Aceh.

Penilaian potensi dan kepribadian itu diikuti 30 hakim tinggi—28 laki-laki dan dua perempuan—dari lingkungan peradilan agama. Penilaian dilakukan oleh Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia Universitas Indonesia.

Dimulai pada pukul 8.30 dan berakhir pada pukul 22, para peserta diminta mengerjakan berbagai tes dan berdiskusi kelompok untuk memecahkan suatu persoalan.

Dirjen Badilag Drs. H. Abdul Manaf, M.H. mengatakan, profile assessment ini merupakan satu rangkaian yang tak terpisahkan dari fit and proper test calon Wakil Ketua PTA/MS Aceh. “Kita mengacu kepada SK Ketua MA Nomor 142 Tahun 2015,” ujarnya.

Dengan mengikuti profile assessment, potensi dan kepribadian setiap peserta dapat diukur secara ilmiah. Sementara itu, dengan mengikuti fit and proper test, keunggulan dan kelemahan setiap peserta dari segi teknis yudisial dan manajerial dapat dinilai secara objektif.

Hasil profile assessment dan fit and proper test akan digabung. Hasil akhirnya akan diumumkan setelah Tim Penguji mengadakan rapat pleno, Rabu besok.

Direspons positif

Badilag telah beberapa kali menyelenggarakan seleksi calon pimpinan PA dan PTA, namun baru kali ini menggelar profile assessment yang dipadukan dengan fit and proper test. Sebelumnya langsung fit and proper test, karena belum ada keharusan untuk menggelar profile assessment terlebih dulu.

Meski baru kali pertama digelar, profile assessment kali ini mendapat respons positif dari para peserta.

H. M. Syarif Mappiasse, S.H., M.H. menilai, profile assessment sangat tepat digunakan untuk mengukur berbagai kemampuan peserta seleksi. “Ini bagus untuk mengetahui kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual,” kata hakim tinggi pada Badan Pengawasan MA itu.

Berdasarkan pengalamannya yang pernah mengikuti seleksi calon hakim agung, profile assessment yang diselenggarakan Badilag ini sudah pas bobot dan waktunya. “Kalau seleski calon hakim agung di KY, profile assessment-nya lebih berat,” ujarnya.

Hj. Rosmawardani, S.H., M.H., hakim tinggi dari MS Aceh, juga menyambut baik diadakannya profile assessment. Baginya, penilaian seperti ini diperlukan untuk menghasilkan pemimpin yang mumpuni dalam berbagai aspek.

“Ya, terus terang, bagi kita yang sudah berusia 60 tahun, tes seperti ini cukup berat. Tapi menurut saya, ini bagus. Hasilnya objektif,” kata mantan Wakil Ketua MS Jantho itu.

Respons positif juga disampaikan Drs. H. Masrum, M.H. Hanya, menurut hakim tinggi PTA Banten itu, tes yang berlangsung dari pagi hingga malam cukup melelahkan. “Kami kan rata-rata sudah berusia lanjut,” kata hakim tinggi berusia 57 tahun itu.

Mantan Ketua PA Jakarta Pusat itu berharap, hendaknya yang lebih diutamakan oleh Badilag adalah hasil fit and proper test. “Hasil profile assessment sebagai pelengkap,” ujarnya.

 [hermansyah]