Ketika Tiga Dirjen Badilag ‘Reuni’
Jakarta l Badilag.net
Ada satu pemandangan menarik pada acara penganugerahan gelar juara Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Peradilan 2015 yang berlangsung di Ruang Wiryono, Gedung Mahkamah Agung, Jumat (13/11/2015). Untuk kali pertama dalam sebuah pertemuan resmi, tiga orang yang pernah dan sedang menjadi Dirjen Badilag berkesempatan 'reuni'.
Ketiganya adalah Drs. H. Wahyu Widiana (Dirjen Badilag tahun 2006-2012 dan kini menjadi Kepala BP4 Pusat), Dr. H Purwosusilo, S.H., M.H. (Dirjen Badilag tahun 2013-2014 dan kini menjadi hakim agung) dan Drs. H. Abdul Manaf, M.H. (Dirjen Badilag sekarang).
Tiga Dirjen Badilag pada masa yang berbeda itu hadir dalam kapasitas mereka sebagai juri. Wahyu Widiana dan Abdul Manaf jadi juri pada penilaian substansi, sedangkan Purwosusilo jadi juri pada penilaian akhir.
Momen ‘reuni’ itu terasa lebih indah, lantaran dua pengadilan agama berhasil meraih penghargaan bergengsi pada kompetisi yang baru kali pertama diselenggarakan Mahkamah Agung ini. PA Kabupaten Malang dengan inovasi Audio to Text Recording (ATR) berhasil menjadi juara I dan juara favorit, dan PA Tanggamus menjadi juara III berkat inovasi Tanggamus Mobile Court (ATR). Satu satker lainnya dari lingkungan peradilan agama, PA Merauke, berhasil masuk 10 besar, dengan mengusung inovasi berupa kemudahan mengakses informasi perkara menggunakan hand phone.
“Kita tentu sangat bangga, PA menjadi juara. Ini mengharumkan peradilan agama. Namun hendaknya prestasi ini tidak membuat kita terlena. Justru ini harus menjadi pelecut buat kita untuk menjadi semakin baik lagi di masa-masa mendatang,” ujar Wahyu Widiana, sekaligus mewakili suara hati dua orang penerusnya.
Pada kompetisi ini, satker-satker dari lingkungan peradilan agama terbilang dominan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Dari segi kuantitas, jumlah satker maupun jumlah inovasi dari PA merupakan yang terbanyak berpartisipasi. Sedangkan dari segi kualitas, meski hanya tiga inovasi yang masuk 10 besar, gelar juara I, juara III dan juara favorit diraih inovasi-inovasi dari PA.
Pak Manaf—panggilan akrab Abdul Manaf—bersuka cita dengan hasil kompetisi ini. Di masa kepempimpinannya sebagai Dirjen Badilag, satker-satker yang berpartisipasi dan meraih gelar prestisius itu telah mengharumkan nama peradilan agama dan meningkatkan citra positif MA sebagai lembaga yang terus berpacu untuk berbenah menjadi lebih baik lagi.
Jika ditilik ke belakang, kesuksesan itu tidak lepas dari kontribusi pimpinan Badilag. Pak Wahyu—panggilan akrab Wahyu Widiana—adalah peletak dasar pembaruan di lingkungan peradilan agama. Ketika memimpin Badilag, Pak Wahyu menelurkan berbagai inovasi. Sebut saja misalnya website Badilag, yang merupakan website pertama di lembaga peradilan setelah website MA. Ada pula aplikasi SIADPA untuk manajemen perkara dan SIMPEG untuk manajemen kepegawaian. Masih berkaitan dengan TI, Pak Wahyu pula yang memelopori Rakernas MA tanpa kertas atau paperless. Berkaitan dengan access to justice, Pak Wahyu juga sangat getol memperjuangkan adanya akses yang lebih baik untuk masyarakat pencari keadilan dengan menyediakan layanan berperkara secara cum-cuma, posbakum dan sidang keliling. Pak Wahyu juga getol mencari dan membina aparatur peradilan agama yang mahir berbagasa asing, dengan menyelenggarakan diskusi hukum berbahasa Arab dan Inggris. Semua itu berdampak positif terhadap satker-satker di lingkungan peradilan agama, juga terhadap MA.
Pak Purwo—panggilan akrab Purwosusilo—juga sosok inovatif. Di antara inovasinya adalah kuliah secara online mengenai hukum materiil, hukum formil dan teknis administrasi. Kuliah online itu merupakan yang pertama dan satu-satunya di lembaga peradilan sejauh ini. Pak Purwo juga memprakarsai adanya majalah Peradilan Agama, baik versi cetak maupun digital. Majalah ini merupakan yang pertama di antara tujuh satker eselon I di MA. Selain itu, Pak Purwo juga berinovasi dengan menyelenggarakan diskusi hukum dengan mengundang narasumber-narasumber berkaliber nasional. Upaya-upaya kreatif dan inovatif itu juga berdampak positif, tidak hanya buat Badilag, tapi juga buat peradilan agama secara luas.
Pada momen bersejarah ini, ketiga sosok sentral dalam dinamika peradilan agama itu duduk semeja, berbincang akrab, lalu menyalami para kontestan yang juara, dan dipungkasi dengan foto bersama. Jepret!
“Alhamdulillah trio regenerasi Dirjen Badilag yang mengagumkan dan menginspirasi kita sehingga prestasi demi prestasi berhasil diraih, termsuk prestasi 3 juara inovasi pelayan publik peradilan 2015 ini digondol oleh PA. Jazakallah atas kepemipimpinan dan teladannya pak Wahyu Widiana, Pak Purwosusilo dan Pak Abdul Manaf. Semoga Bapak-bapak terus tiada henti memberikan ilmu dan pengalamannya kepada kami warga peradilan agama,” kata Masrinedi, pembaca setia badilag.net dari PTA Padang.
[hermansyah]