Lagi, Badilag Selenggarakan Assessment untuk Pegawainya
Jakarta l Badilag.net
Selama tiga hari, 18-20 November 2015, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama menyelenggarakan profile assessment di lantai 11 Gedung Sekretariat Mahkamah Agung. Selain untuk menjaring calon pejabat eselon IV, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memetakan potensi para pegawai.
Assessment kali ini merupakan yang kedua. Badilag pernah menyelenggarakan kegiatan serupa pada 1-3 September lalu di tempat yang sama.
Sebagaimana assessment gelombang pertama, assessment kali ini juga diikuti oleh 18 pegawai dari seluruh unit kerja eselon II Badilag. Bedanya, assessment gelombang pertama diikuti para pegawai berpangkat/golongan III/d dan III/c, sementara assessment gelombang kedua diikuti para pegawai berpangkat/golongan III/b dan lll/a.
Meneruskan arahan dari Sekretaris Ditjen Badilag H. Tukiran, S.H., M.M., Kepala Bagian Kepegawaian Badilag Drs. H. Rafiuddin, M.H. mengungkapkan bahwa assessment ini adalah salah satu bukti pelaksanaan reformasi birokrasi di Badilag.
“Di antara delapan area reformasi birokrasi adalah penataan sistem manajemen SDM aparatur,” kata Rafiuddin, saat membuka acara ini secara resmi pada Rabu (18/11/2015).
Melalui assessment, para pegawai dapat berkompetisi secara sehat untuk menduduki jabatan yang tersedia. Meski demikian, kata Rafiuddin, hasil assessment bukanlah satu-satunya bahan pertimbangan bagi pimpinan untuk mempromosikan seorang pegawai.
“Assessment ini lebih ditujukan untuk memetakan kelebihan dan kekurangan seorang pegawai, sehingga dapat diketahui, dia cocoknya ditaruh di mana,” ujarnya.
Untuk melaksanakan assessment ini, Badilag bekerja sama dengan sebuah lembaga konsultan. Abubakar Baraja, S.Psi, psikolog pada lembaga tersebut, mengungkapkan bahwa pihaknya tidak melakukan penilaian.
“Justru Anda sendirilah yang menilai diri Anda. Kami hanya memfasilitasi,” kata psikolog berusia 52 tahun itu.
Abubakar meminta seluruh peserta untuk menjadi diri sendiri, jujur dan rileks. Penulis buku Psikologi Perkembangan itu menegaskan bahwa melalui assessment ini, kepribadian seseorang akan diketahui apa adanya.
Tiga hari yang ‘sersan’
Assessment berlangsung selama tiga hari penuh, mulai pagi hingga sore. Pada hari pertama, setelah pembukaan, para peserta dihadapkan pada tes intelegensia, tes sikap kerja, tes kepribadian dan tes bahasa Inggris.
Pada hari kedua, para peserta menjalani intray test, yakni tes untuk mengidentifikasi, mengalisis dan memecahkan suatu persoalan. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi kelompok dan presentasi. Hari kedua ditutup dengan interview tiap-tiap peserta oleh para psikolog.
Pada hari ketiga, para peserta dihadapkan pada agenda yang cukup padat. Mula-mula, peserta harus melakoni pre test. Setelah itu, training kepemimpinan, ice breaker, role play, training kepempimpinan lagi, dinamika kelompok dan terakhir post test.
Meski menguras energi dan menuntut konsentrasi, para peserta melakoni seluruh agenda itu dengan sersan alias serius tapi santai.
[hermansyah l foto: rahman]